Jakarta, Tebarberita.id — Memiliki gelar sarjana tidak selalu mempermudah seseorang memasuki dunia kerja. Persaingan yang ketat, terbatasnya lowongan, tuntutan pengalaman, hingga ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri menjadi sejumlah tantangan yang dihadapi pencari kerja muda di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas, yang mencakup jenjang D4 hingga S3, mencapai 6,23%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lulusan diploma I–III sebesar 4,84% dan lulusan SMP sebesar 4,35%. Sementara itu, TPT lulusan SMA tercatat 6,35% dan SMK mencapai 8%.
Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak serta-merta menjamin seseorang memperoleh pekerjaan, terutama ketika pertumbuhan jumlah lulusan tidak diimbangi ketersediaan pekerjaan yang sesuai.
Agil Ramadhan, lulusan baru program studi Desain Komunikasi Visual (DKV), merasakan langsung tantangan tersebut. Ia mengaku proses mencari pekerjaan menguras energi dan mental karena terbatasnya lowongan yang tersedia.
“Pengalaman saya mencari pekerjaan sejauh ini sungguh menguras energi dan mental dikarenakan minimnya lowongan pekerjaan yang dibuka,” kata Agil seperti dikutip DW.
Untuk memenuhi persyaratan pengalaman kerja, Agil telah bekerja sejak masih kuliah. Langkah itu dilakukannya untuk mengenal industri kreatif sekaligus memperkuat portofolio dan daftar riwayat hidup. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman langsung lebih membantu menghadapi persoalan profesional dibandingkan materi perkuliahan yang dinilainya terlalu teoritis.
Ia juga menyoroti proses rekrutmen yang mengharuskan pelamar mengerjakan tes keterampilan dan studi kasus dalam waktu yang tidak sedikit. Namun, setelah melalui tahapan tersebut, perusahaan belum tentu memberikan kepastian mengenai hasil lamaran.
Agil turut menemukan lowongan yang meminta kandidat menguasai banyak keterampilan sekaligus, termasuk tanggung jawab lintas bidang yang menurutnya idealnya ditangani oleh divisi berbeda.
Kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri
Agil menilai perguruan tinggi perlu memperbanyak pembelajaran berbasis praktik agar mahasiswa lebih siap menghadapi situasi kerja yang sebenarnya. Ia mencontohkan penyelenggaraan acara program studi DKV yang seharusnya dapat menjadi sarana belajar menyusun gagasan, membuat pitch deck, mencari sponsor, dan mempresentasikan konsep kepada calon mitra.
Namun, menurutnya, mahasiswa kerap hanya dilibatkan sebagai tenaga pelaksana acara, bukan sebagai pihak yang turut merancang strategi dan mengelola kebutuhan kegiatan.
Padahal, keterbatasan anggaran kampus dapat dijadikan kesempatan untuk melatih kemampuan mahasiswa mencari sponsor, meyakinkan calon mitra, dan mempertanggungjawabkan gagasan. Kegagalan memperoleh sponsor atau menarik audiens pun dapat dievaluasi sebagai bagian dari proses pembelajaran desain dan komunikasi.
“Apalah arti sebuah event jika hanya dihadiri oleh panitianya saja, sedangkan memiliki visi untuk dihadiri oleh banyak orang,” ujarnya.
Dari sisi perusahaan, kesenjangan kompetensi juga menjadi tantangan dalam proses perekrutan. Senior Talent Acquisition Lead di NTT DATA, Yenny Sukowati, mengatakan perusahaan tidak mudah menemukan kandidat yang memenuhi seluruh kebutuhan organisasi.
“Menemukan kandidat yang benar-benar cocok dengan perusahaan, dengan pengguna, dengan gajinya, atau benar-benar cocok secara menyeluruh itu nggak gampang,” kata Yenny.
Menurut Yenny, sebagian kandidat memiliki kemampuan akademis dan teknis yang memadai, tetapi masih kesulitan menyampaikan gagasan secara jelas. Selain penguasaan teknis, perusahaan mempertimbangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan adaptasi.
Ia mencontohkan kandidat untuk posisi pengembang perangkat lunak (software developer) atau analis bisnis (business analyst) tingkat pemula. Pemahaman teori belum tentu membuat kandidat siap menghadapi perubahan kebutuhan proyek. Ketika klien mengubah permintaan, pekerja perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap koordinasi lintas departemen dan jadwal penyelesaian pekerjaan.
Pengalaman magang, proyek praktis, serta pekerjaan lepas selama kuliah dapat membantu mahasiswa membuktikan kesiapan mereka menghadapi situasi profesional. Yenny juga menekankan pentingnya kemauan untuk terus belajar di tengah perubahan teknologi.
“Menurut saya, sekarang ini bukan lagi soal siapa yang paling tahu, tetapi siapa yang paling cepat belajar dan beradaptasi dengan teknologi saat ini,” ujarnya.
Ia menyarankan pencari kerja mengembangkan kompetensi melalui kursus, sertifikasi, komunitas profesional, dan pengalaman praktik. Penguatan kemampuan teknis perlu berjalan beriringan dengan keterampilan komunikasi dan kerja sama.
Pertumbuhan lulusan tidak selalu diikuti penciptaan lapangan kerja
Peneliti pascadoktoral di University College London sekaligus research affiliate di Center on Child Protection and Wellbeing (PUSKAPA), Universitas Indonesia, Clara Siagian, menilai persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi perlu dipahami dalam konteks perubahan struktur ekonomi dan meningkatnya jumlah masyarakat yang mengakses pendidikan tinggi.
“Di Indonesia, spekulasiku, peningkatan besar di pendidikan tinggi ini terjadi lumayan cepat, mungkin dalam satu hingga dua generasi. Tetapi struktur ekonomi tidak bisa diubah secepat itu untuk mengejar lonjakan lulusannya,” kata Clara.
Menurutnya, pertumbuhan jumlah lulusan tidak otomatis diikuti peningkatan kesempatan kerja yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Perubahan ekonomi global, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI), perang, dan dinamika ekonomi neoliberal, turut memengaruhi kondisi pasar tenaga kerja.
Clara juga menyoroti kesenjangan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Pembicaraan mengenai perguruan tinggi kerap berpusat pada institusi besar, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung, meskipun hanya sebagian mahasiswa yang menempuh pendidikan di kampus-kampus tersebut.
Ia menilai kualitas keterampilan yang diperoleh sebagian lulusan belum selalu sebanding dengan biaya pendidikan dan kualifikasi yang ditawarkan. Akses terhadap jaringan profesional dan modal sosial juga dapat memengaruhi peluang memperoleh pekerjaan.
Kondisi tersebut berpotensi lebih berat bagi lulusan yang menjadi orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi atau berasal dari perguruan tinggi yang kurang dikenal oleh perusahaan.
Clara juga menyoroti fenomena degree inflation, yakni meningkatnya persyaratan pendidikan untuk pekerjaan yang sebelumnya dapat diisi oleh kandidat dengan kualifikasi lebih rendah.
“Lowongan pekerjaan yang tadinya cuma membutuhkan ijazah SMA, sekarang bisa memilih di antara lulusan S1. Yang tadinya membutuhkan S1, sekarang lulusan S2 pun ikut melamar, dan seterusnya,” ujarnya.
Fenomena ini dapat meningkatkan persaingan di antara pencari kerja sekaligus membuat gelar pendidikan yang lebih tinggi tidak selalu memberikan keunggulan signifikan dalam proses rekrutmen.
Pendidikan dan migrasi tidak selalu menjamin mobilitas ekonomi
Ketidakpastian pekerjaan juga terlihat dalam penelitian Jessica N. Clendenning berjudul The Inevitability of Leaving and the Impossibility of Staying Away: Rural Youth Migration in Flores, Indonesia, yang diterbitkan dalam jurnal Antipode pada 2025.
Berdasarkan survei terhadap 80 rumah tangga dan wawancara mendalam, penelitian tersebut mengkaji hubungan antara pendidikan, migrasi, dan ketidakpastian pekerjaan di kalangan anak muda di Flores.
Studi itu menemukan bahwa pendidikan tinggi dan pekerjaan kantoran dipandang sebagai jalan untuk keluar dari keterbatasan ekonomi berbasis pertanian. Namun, perpindahan ke kota untuk menempuh pendidikan atau mencari pekerjaan tidak selalu menghasilkan pekerjaan bergaji tetap maupun keamanan ekonomi dalam jangka panjang.
Sebagian anak muda menghadapi pekerjaan yang tidak stabil, pendapatan terbatas, dan tingginya biaya hidup perkotaan. Dalam kondisi tertentu, mereka kembali ke desa karena kesulitan memperoleh pekerjaan atau harus memenuhi tanggung jawab keluarga. Tanah dan hubungan kekerabatan kemudian berfungsi sebagai penyangga sosial sekaligus ekonomi.
Karena penelitian tersebut berfokus pada komunitas tertentu di Flores, temuannya tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh lulusan di Indonesia. Meski demikian, studi itu memperlihatkan bahwa pendidikan dan migrasi tidak selalu menjamin peningkatan kesejahteraan ketika kesempatan kerja dan dukungan sosial terbatas.
Berbagai pengalaman dan temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan transisi dari pendidikan ke dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu. Ketersediaan lapangan kerja, relevansi pendidikan, kualitas proses rekrutmen, akses terhadap jaringan profesional, dan kemampuan industri menyerap lulusan turut menentukan peluang seseorang memperoleh pekerjaan yang layak. (*)

