TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 621 kali.
EKONOMI

BMW Pangkas 8.000 Pekerja, Industri Otomotif Jerman Tertekan Persaingan Produsen China

Munich, Tebarberita.id – BMW menjadi produsen mobil Jerman terbaru yang mengumumkan pengurangan besar-besaran tenaga kerja di tengah tekanan industri otomotif akibat persaingan kendaraan listrik asal China, tingginya biaya operasional, dan melemahnya permintaan di sejumlah pasar utama.

Perusahaan yang berbasis di Munich itu pada Rabu (29/7) mengumumkan rencana memangkas hingga 8.000 pekerja di seluruh dunia, atau sekitar 5 persen dari total 154.000 karyawannya.

BMW, yang juga menaungi merek Mini dan Rolls-Royce, menyatakan sebagian besar pengurangan tenaga kerja akan terjadi di Jerman. Perusahaan menegaskan langkah tersebut akan ditempuh melalui pengurangan karyawan secara alami dan program pengunduran diri sukarela, tanpa mengandalkan pemutusan hubungan kerja secara massal.

Keputusan itu diambil setelah BMW mencatat penurunan tajam kinerja di pasar China, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama penjualan perusahaan.

Meski sebelumnya dinilai lebih mampu bertahan dibandingkan produsen mobil Jerman lainnya, BMW bulan lalu mengungkapkan penjualannya di China mengalami penurunan tajam akibat semakin agresifnya produsen kendaraan listrik lokal.

Sepanjang tahun lalu, pengiriman kendaraan BMW di China turun ke level terendah sejak 2017. Dalam periode April hingga Juni 2026, penjualannya kembali merosot sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan terhadap perusahaan juga datang dari kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kenaikan biaya energi akibat konflik Iran, serta ekspansi produsen kendaraan listrik China ke pasar-pasar utama, termasuk Eropa, Asia Pasifik, dan Amerika Latin.

Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (30/7), BMW melaporkan laba bersih kuartal kedua anjlok 35 persen menjadi 1,2 miliar euro atau sekitar Rp24,8 triliun. Pendapatan perusahaan juga turun dari 34 miliar euro menjadi 31 miliar euro.

Perusahaan sekaligus merevisi proyeksi kinerja untuk sisa tahun ini dengan memperingatkan adanya “penurunan signifikan” pada laba.

Porsche Tambah Pengurangan Tenaga Kerja

Gelombang efisiensi sebelumnya diumumkan Porsche yang berencana memangkas tambahan 5.000 pekerja di Jerman hingga akhir 2035, atau sekitar seperlima dari total tenaga kerjanya.

Langkah tersebut akan memengaruhi fasilitas produksi utama di Stuttgart-Zuffenhausen serta pusat penelitian dan pengembangan di Weissach.

Sebelumnya, Porsche telah mengumumkan pengurangan 1.900 posisi di wilayah Stuttgart hingga 2029 dan mengakhiri sekitar 2.000 kontrak kerja jangka tetap.

Selain itu, perusahaan akan menunda kenaikan gaji dan mengaitkan bonus kinerja secara lebih ketat dengan pencapaian laba perusahaan.

Porsche, yang berada di bawah Volkswagen Group, juga telah mengurangi jumlah pekerja di pabrik Leipzig serta menutup tiga anak perusahaan yang mempekerjakan sekitar 500 orang. Pada akhir tahun lalu, Porsche memiliki hampir 41.800 karyawan, sekitar 85 persen di antaranya berada di Jerman.

Volkswagen Siapkan Pemangkasan Terbesar

Volkswagen menjadi perusahaan yang merencanakan pengurangan tenaga kerja paling besar di antara produsen otomotif Jerman. Bulan lalu, perusahaan meningkatkan target pemangkasan dari 50.000 menjadi hingga 100.000 pekerja dan mengusulkan penutupan empat pabrik di Jerman.

Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari serikat pekerja serta Pemerintah Negara Bagian Lower Saxony yang memiliki sekitar 20 persen hak suara di Volkswagen dan dapat memveto keputusan strategis perusahaan.

Volkswagen saat ini mempekerjakan sekitar 630.000 orang secara global, atau sekitar 680.000 pekerja jika termasuk perusahaan patungan di China. Jumlah tenaga kerja tersebut sekitar 60 persen lebih banyak dibandingkan Toyota meski volume produksi kedua perusahaan relatif setara.

Besarnya jumlah pekerja yang dahulu menjadi simbol kekuatan industri Jerman kini dinilai menjadi beban biaya di tengah ketatnya persaingan kendaraan listrik, khususnya dari China.

Perusahaan juga menghadapi tekanan akibat tingginya biaya produksi di Jerman, yang disebut mencapai dua kali lipat dibandingkan sejumlah pesaingnya, serta melambatnya penjualan kendaraan listrik di China dan Eropa.

Mercedes Tempuh Efisiensi Tanpa PHK Paksa

Mercedes-Benz memilih pendekatan berbeda dengan menargetkan penghematan senilai 5 miliar euro hingga 2027 tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja secara paksa di pabrik-pabrik Jerman. Melalui kesepakatan dengan dewan pekerja, perusahaan mengandalkan program pengunduran diri sukarela untuk menjalankan restrukturisasi.

Hingga Maret tahun ini, sekitar 5.500 pegawai di bidang administrasi, penelitian dan pengembangan, serta teknologi informasi telah menerima paket pesangon. Mercedes juga dilaporkan mengurangi jumlah pekerja di operasinya di China.

Bulan lalu, perusahaan menunda pembayaran bonus bagi hampir tiga perempat karyawan di Jerman hingga 2027 serta mengusulkan perpanjangan jam kerja dari 35 menjadi 40 jam per pekan tanpa tambahan upah.

Manajemen Mercedes juga mengindikasikan kemungkinan relokasi sebagian pekerjaan ke luar negeri. Dalam laporan keuangan yang dirilis Selasa (28/7), Mercedes mengungkapkan telah menghapus aset senilai lebih dari 700 juta euro akibat ketatnya persaingan di pasar China.

Meski laba bersih kuartal kedua meningkat 13,5 persen menjadi 1,09 miliar euro, laba inti divisi mobil penumpang justru turun sekitar 25 persen menjadi 909 juta euro.

Audi Juga Lakukan Restrukturisasi

Audi, yang juga berada di bawah Volkswagen Group, sebelumnya mengumumkan rencana memangkas hingga 7.500 pekerjaan di Jerman hingga akhir 2029. Perusahaan menyatakan pengurangan tenaga kerja akan dilakukan melalui program sukarela dan pensiun dini, terutama di bidang administrasi serta penelitian dan pengembangan.

Namun, bulan lalu pabrik Audi di Neckarsulm masuk dalam daftar fasilitas yang berpotensi ditutup pada 2030 berdasarkan evaluasi induk usahanya. Penutupan tersebut diperkirakan dapat berdampak pada sekitar 15.000 pekerja.

Pabrik tersebut memproduksi model A5, A6, dan A8, dengan kapasitas produksi yang telah dikurangi dari sekitar 300.000 unit menjadi 225.000 kendaraan per tahun.(*)

Related posts

Tahun Terakhir Kabinet, Jokowi Minta Genjot Belanja Pemerintah

admin

Buang Dolar, Jurus Jitu Negara Bangun Kekuatan Ekonomi Baru

admin

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim: Ada Sanksi untuk Pengusaha Tak Beri THR Pekerja

admin