TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 636 kali.
NASIONAL

Hari Anak Nasional 2026: Kakak Beradik Asal Samarinda Harumkan Nama Indonesia di Festival Seni Dunia di Wales

Samarinda, Tebarberita.id — Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” menjadi pengingat pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak melalui kasih sayang, perlindungan, pendidikan, dan kesempatan mengembangkan potensi. Nilai tersebut tercermin dari perjalanan Muhammad Bintang Prabu Adinata dan Maharatu Bulan Adinata, kakak beradik asal Samarinda yang berhasil membawa Indonesia meraih prestasi pada Llangollen International Musical Eisteddfod 2026 di Wales, Britania Raya.

Festival yang berlangsung pada 7–12 Juli 2026 di Royal International Pavilion, Llangollen, North Wales, merupakan salah satu ajang musik dan tari internasional tertua dan paling bergengsi di dunia. Sejak pertama kali digelar pada 1947, festival ini menjadi wadah pertukaran budaya yang diikuti peserta dari sekitar 50 negara.

Bersama Yayasan Kiny Kultura, Bintang dan Bulan bergabung dalam Delegasi Indonesia yang beranggotakan 26 orang. Keduanya menjadi satu-satunya wakil dari Samarinda sekaligus Kalimantan Timur.

Dalam festival tersebut, Delegasi Indonesia menampilkan beragam seni budaya Nusantara melalui tarian tradisional, musik, dan busana adat. Penampilan itu mengantarkan Indonesia meraih Juara I Folk Dance Group Category dan Juara III Children Folk Dance Category, sekaligus memperoleh piala, sertifikat, uang pembinaan, dan sponsorship dari penyelenggara.

Selama mengikuti rangkaian kegiatan, Bintang dan Bulan juga memperkenalkan budaya Indonesia melalui busana adat Dayak Kalimantan yang dikenakan dalam berbagai penampilan serta parade budaya. Selain berkompetisi, mereka mengikuti pertunjukan persahabatan dan program pertukaran budaya bersama peserta dari berbagai negara sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

Di balik keberhasilan tersebut terdapat perjuangan panjang. Seluruh biaya perjalanan menuju Britania Raya, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, konsumsi hingga kebutuhan selama festival, dibiayai secara mandiri oleh keluarga tanpa dukungan pendanaan dari pemerintah maupun lembaga lain.

Keberhasilan itu juga merupakan hasil latihan intensif selama berbulan-bulan yang dijalani seluruh anggota delegasi. Persiapan dilakukan untuk meningkatkan teknik tari, kekompakan tim, ekspresi, serta penguasaan panggung.

Bagi keluarga, pencapaian tersebut merupakan hasil pembinaan yang dilakukan sejak dini. Sang ibu, Nia Nuswantari, secara konsisten mendampingi kedua anaknya mengembangkan kemampuan di berbagai bidang, mulai dari seni, olahraga, akademik, teknologi, komunikasi hingga keterampilan hidup.

“Kami tidak pernah menargetkan anak-anak harus menjadi juara. Yang kami tanamkan adalah keberanian untuk mencoba, disiplin menjalani proses, dan terus belajar. Prestasi hanyalah bonus dari usaha dan doa,” ujar Nia.

Muhammad Bintang Prabu Adinata yang lahir di Samarinda pada 13 Januari 2014 saat ini menempuh pendidikan di Thursina Islamic International Boarding School, Malang.

Sebelum tampil di Wales, Bintang telah mewakili Indonesia sebagai Delegasi UNESCO Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam forum tersebut, ia meraih penghargaan Best Dress berkat busana adat Dayak Kenyah Kalimantan Timur yang dikenakannya.

Ia juga mengikuti berbagai program kepemimpinan dan teknologi di Jepang melalui Schoters by Ruangguru di Keio University, Waseda University, dan The Institute of Science Tokyo dengan materi kepemimpinan, quantum computing, coding, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan machine learning.

Di bidang olahraga, Bintang pernah mengikuti pembinaan di Real Madrid Foundation, Cruzeiro FC Brazil Soccer Academy, serta Barça Academy Camps. Ia juga aktif mengembangkan kemampuan di sepak bola, bola basket, renang, catur, bela diri, seni tari, musik sape dan drum, bahasa Inggris, bahasa Jepang, public speaking, Model United Nations, debat, pidato, fotografi, memasak, baking, barista, pertanian, pertukangan, first aid, web development, coding, programming, dan desain digital.

Sementara itu, Maharatu Bulan Adinata yang lahir di Samarinda pada 27 November 2016 saat ini bersekolah di SD Islamic Center Samarinda.

Meski masih berusia muda, Bulan telah meraih sejumlah prestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Ia pernah menjadi finalis Olimpiade Omni Sains Indonesia (OSI), meraih penghargaan pada berbagai kompetisi fashion show, menjadi Juara II Public Speaking Championship, Juara III English News Reading Competition, Juara Harapan I Lomba Dongeng Cerita Rakyat Kalimantan Timur, serta memperoleh Bronze Prize pada World Dance Festival Indonesia 2026.

Selain aktif di bidang tari, Bulan juga mengembangkan kemampuan menyanyi, memainkan drum dan sape, membatik, menjadi master of ceremony (MC), pendongeng, news presenter cilik, voice over talent, hingga mempelajari fashion design, fotografi, baking, memasak, pottery, merajut, makrame, meronce, pertanian, coding, desain digital, dan pengembangan web.

Selama berada di Britania Raya, keduanya juga mengikuti Meta Artificial Intelligence Program 2026 yang diselenggarakan Meta untuk memperkenalkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan kepada generasi muda. Selain itu, mereka mengikuti Leadership Program yang diselenggarakan CIE Oxford di Oxford, Inggris, guna memperdalam kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan wawasan global.

Perjalanan Bintang dan Bulan menunjukkan bahwa pengembangan potensi anak tidak harus terpaku pada satu bidang. Keduanya dibina secara seimbang melalui pendidikan seni, akademik, olahraga, teknologi, bahasa asing, kepemimpinan, komunikasi, dan berbagai keterampilan hidup sehingga mampu tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, kreatif, serta memiliki kepedulian terhadap budaya bangsa.

Dalam pengembangan kemampuan komunikasi, keduanya juga mengikuti pelatihan private public speaking di Semesta Academy Samarinda.

Direktur sekaligus Co-Founder Semesta Academy, Endro S. Efendi, menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lembaga pengembangan karakter.

“Tema Hari Anak Nasional tahun ini mengingatkan bahwa bentuk kasih sayang terbaik kepada anak bukan hanya memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga memberikan ruang untuk belajar, berlatih, membangun karakter, dan mengembangkan potensinya. Prestasi Bintang dan Bulan membuktikan bahwa ketika keluarga, sekolah, dan lembaga pengembangan karakter berjalan beriringan, anak-anak Indonesia mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, serta siap menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ujar Endro.

Kisah Bintang dan Bulan menjadi gambaran bahwa prestasi lahir melalui proses panjang yang melibatkan dukungan keluarga, guru, serta lingkungan yang kondusif. Semangat tersebut sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan,” yang menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi sehingga mampu mengharumkan nama daerah dan Indonesia di panggung internasional. (*)

Related posts

Dosen ASN Dilarang Ikut Kampanye Politik di Kampus

admin

JMSI Deklarasi Kebangsaan di Nol Kilometer Indonesia

admin

Muktamar Sufi Internasional, Presiden: Tasawuf Selalu Hadir dengan Humanisme Universal

admin