TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 617 kali.
NEWS

PBB Dorong Penggunaan Peta Equal Earth, AS Jadi Satu-satunya Penentang

New York, Tebarberita.id — Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi peta dunia Equal Earth, yang dinilai mampu menggambarkan perbandingan luas wilayah di permukaan Bumi secara lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Resolusi yang diajukan Togo, negara Afrika Barat sekaligus anggota Uni Afrika, mendapat dukungan dari 164 negara anggota PBB. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak, sementara enam negara lainnya memilih abstain.

Resolusi tersebut tidak memiliki kekuatan mengikat. Namun, PBB mendorong negara-negara dan organisasi internasional untuk mempertimbangkan penggunaan proyeksi Equal Earth, khususnya dalam konteks yang tidak membutuhkan ketepatan sudut dan arah.

Perdebatan tersebut berangkat dari persoalan mendasar dalam kartografi: tidak mungkin menggambarkan permukaan Bumi yang berbentuk tiga dimensi ke dalam bidang datar tanpa menimbulkan distorsi.

Perbedaan Equal Earth dan Mercator

Selama berabad-abad, proyeksi Mercator, yang dikembangkan kartografer Gerardus Mercator, menjadi salah satu standar utama dalam penggambaran dunia. Proyeksi ini memiliki keunggulan dalam mempertahankan arah dan sudut, sehingga sangat berguna untuk navigasi.

Namun, konsekuensinya adalah ukuran wilayah mengalami distorsi. Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar wilayah tersebut terlihat pada peta.

Salah satu contoh paling mencolok adalah Greenland. Dalam proyeksi Mercator, pulau tersebut dapat terlihat memiliki luas yang hampir sebanding dengan Afrika. Padahal, secara geografis, luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.

Proyeksi Equal Earth menawarkan pendekatan berbeda. Sistem ini dirancang untuk mempertahankan perbandingan luas wilayah sehingga ukuran benua dan negara lebih mendekati proporsi sebenarnya.

Afrika, misalnya, terlihat jauh lebih besar dibandingkan dalam proyeksi Mercator. Sebaliknya, Amerika Serikat tampak lebih kecil dan lebih mendekati ukuran geografis sebenarnya.

Namun, Equal Earth juga memiliki keterbatasan. Karena mengutamakan ketepatan luas, bentuk serta sudut sejumlah wilayah tidak selalu dapat dipertahankan sebagaimana kondisi sebenarnya.

Dengan demikian, tidak ada satu proyeksi peta yang mampu mempertahankan seluruh aspek geografis secara sempurna. Pilihan proyeksi bergantung pada tujuan penggunaannya.

Togo: Peta Memengaruhi Cara Dunia Dipahami

Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey mengatakan peta bukan sekadar alat untuk menunjukkan lokasi geografis, tetapi juga dapat memengaruhi cara manusia memahami dunia.

“Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia,” kata Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey saat berdebat di Sidang Umum PBB. Peta tidak pernah netral. Ada risiko bahwa peta “menyampaikan gambaran yang menyimpang akan planet ini dan memperkuat persepsi yang keliru, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi.”

Setelah resolusi disetujui, Dussey kembali menekankan pentingnya perubahan tersebut melalui media sosial.

“Ini soal keadilan, martabat, kesetaraan, dan cara kita menggambarkan dunia kita.”

Ia menilai penggunaan kartografi tradisional dalam waktu lama telah memengaruhi persepsi masyarakat mengenai ukuran sebenarnya Afrika dan wilayah lainnya.

“Memperbaiki peta berarti memperbaiki cara kita memandang dunia,” kata Dussey.

AS Sebut Resolusi Bersifat Ideologis

Amerika Serikat mengambil posisi berbeda dengan mayoritas anggota PBB. Washington menyebut usulan tersebut sebagai proyek “ideologis” yang justru mengalihkan perhatian dari persoalan internasional yang dinilai lebih mendesak.

Perbedaan pandangan tersebut pada dasarnya berakar pada pilihan mengenai fungsi sebuah peta. Proyeksi Mercator tetap memiliki nilai praktis karena mampu mempertahankan arah dan sudut, karakteristik yang penting dalam navigasi.

Sementara itu, Equal Earth lebih menekankan ketepatan perbandingan luas. Tidak ada satu metode yang dapat menghilangkan seluruh distorsi ketika permukaan bola Bumi dituangkan ke bidang datar.

Untuk kebutuhan pendidikan, alternatif paling sederhana tetap tersedia: globe atau bola dunia. Berbeda dengan peta datar, globe memungkinkan pelajar melihat bentuk keseluruhan Bumi tanpa harus memilih satu jenis distorsi proyeksi. (*)

Related posts

Kemenag Kirim 2.199 Dai ke Wilayah 3T pada 2026

admin

Di Tengah Ekonomi Sulit, Mahasiswa Untag Minta Medical Check Up Jadi Syarat Pembuatan SIM

admin

Laporan: Peretas China Akses Email Staf Komite Strategis DPR AS

admin