TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 626 kali.
SAMARINDA

Kemenag Samarinda Dorong Masjid Miliki “Kotak Masalah” untuk Bantu Persoalan Umat

Nasrun (bertopi)

Samarinda, Tebarberita.id – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Samarinda, Drs. H. Nasrun, M.H., mendorong masjid memperluas perannya dari sekadar tempat ibadah menjadi pusat pelayanan dan penyelesaian persoalan masyarakat. Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah menghadirkan “kotak masalah” di masjid sebagai wadah bagi jamaah menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Gagasan tersebut disampaikan Nasrun dalam rapat bersama Gerakan Safari Subuh Berjamaah Bulanan yang digelar Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Kalimantan Timur di Aula Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim, Jalan Harmonika, Samarinda, Rabu (12/8/2026).

Menurut Nasrun, manfaat keberadaan masjid seharusnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat di sekitarnya. Persoalan yang dihadapi umat tidak selalu berupa kesulitan ekonomi, tetapi juga dapat berkaitan dengan pendidikan, keluarga, anak yatim, maupun persoalan sosial lainnya.

“Kalau selama ini di masjid kita mengenal kotak amal, kenapa tidak kita berpikir tentang kotak masalah? Artinya, ketika masyarakat punya masalah, mereka datang ke masjid dan masjid menjadi bagian dari problem solving,” kata Nasrun.

Ia menilai aktivitas masjid dan kegiatan keagamaan perlu diiringi kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat. Menurutnya, masih terdapat anak yatim dan keluarga kurang mampu di lingkungan sekitar masjid yang membutuhkan perhatian, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.

“Jangan sampai kita setiap hari membaca Al-Qur’an dan beribadah, tetapi masih tidak peduli dengan lingkungan kita,” ujarnya.

Nasrun juga mendorong pengelola masjid mengoptimalkan dana yang tersedia untuk pemberdayaan umat. Dengan pengelolaan yang sesuai ketentuan dan tata kelola yang baik, dana tersebut dinilai dapat digunakan untuk membantu masyarakat, termasuk melalui skema pinjaman tanpa bunga.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dengan BAZNAS agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran. Pendataan mustahik dan warga yang membutuhkan, kata dia, harus dilakukan secara akurat untuk menghindari persoalan administrasi, termasuk penerima bantuan yang tercatat lebih dari satu kali.

Selain memperkuat fungsi sosial, Nasrun meminta masjid mengembangkan pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter generasi muda. Kegiatan dakwah dan pelayanan jamaah, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak dan remaja.

Sejumlah fasilitas seperti kafe masjid, akses Wi-Fi yang dikelola secara aman, serta bimbingan belajar bahasa Inggris, bahasa Arab dan keterampilan lainnya dapat dikembangkan sebagai ruang interaksi bagi generasi muda.

Nasrun menegaskan fasilitas tersebut bukan untuk mengubah fungsi utama masjid, melainkan menjadi instrumen pendekatan agar anak-anak dan remaja merasa lebih dekat dengan lingkungan masjid.

“Kalau kita ingin menarik anak-anak ke masjid, mestinya materinya dan caranya juga menggunakan pendekatan anak-anak,” katanya.

Dalam rapat tersebut, Nasrun juga mengingatkan agar Gerakan Safari Subuh tetap berorientasi pada dakwah dan penguatan moral masyarakat serta tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis.

Ia meminta keterlibatan berbagai organisasi dalam kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari silaturahmi dan pelayanan kepada jamaah. Para mubalig yang dihadirkan juga diharapkan menyampaikan dakwah yang menyejukkan, mencerahkan, dan memperkuat persatuan.

Nasrun turut mengingatkan pentingnya menghormati tradisi dan amaliah yang telah berjalan di setiap masjid yang menjadi lokasi Safari Subuh.

“Kalau kita di sana tamu, kita harus menghargai amaliah yang ada. Jangan sampai kehadiran kita justru dianggap sebagai gerakan untuk mengubah warna masjid,” ujarnya.

Gagasan mengenai fungsi sosial masjid tersebut menjadi bagian dari persiapan Gerakan Safari Salat Subuh Berjamaah yang direncanakan berlangsung rutin setiap bulan di sejumlah masjid di Samarinda.

Program yang digagas PW DMI Kaltim tersebut akan melibatkan berbagai unsur kemasjidan, antara lain Dewan Masjid Indonesia (DMI), Badan Kemakmuran Masjid (BKM), BAZNAS, dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI).

Safari Subuh tidak hanya dirancang sebagai kegiatan salat berjamaah dan kajian keagamaan. Agenda tersebut juga akan diarahkan pada kegiatan sosial, termasuk membersihkan masjid dan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya.

Ketua Pimpinan Daerah DMI Kota Samarinda, Drs. KH. Azhar Qowim, M.Pd.I., menyambut positif gagasan tersebut. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan secara konsisten dapat memperkuat syiar Islam sekaligus membangun kepedulian terhadap jamaah dan lingkungan.

Rapat dibuka Sekretaris PW DMI Kaltim Muhammad Idris, M.Pd., dan menjadi bagian dari proses penyusunan konsep serta teknis pelaksanaan Gerakan Safari Subuh Berjamaah Bulanan di Samarinda.

Melalui konsep “kotak masalah”, masjid diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan, memperoleh pendampingan, dan mencari solusi secara bersama-sama.

Dengan pendekatan tersebut, masjid tidak hanya diharapkan menjadi pusat aktivitas ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat—tempat warga dapat memperoleh pengetahuan, bantuan, pendampingan, dan solusi ketika menghadapi persoalan. (*)

Related posts

OMG Samarinda Kenalkan Ganjar Pranowo di Posyandu

admin

Kepala SMAN 13 Samarinda Ajak Orang Tua Bangun Kemitraan untuk Dukung Pendidikan Siswa

admin

Belajar Kembali Normal, Sekolah Subulussalam Samarinda Tandai dengan Upacara

admin