Jakarta, Tebarberita.id — Sejumlah sungai utama di Kalimantan yang menjadi jalur pengangkutan batu bara mulai mengalami penyusutan debit dan pendangkalan akibat musim kemarau yang diperburuk fenomena El Niño. Kondisi tersebut membatasi pergerakan tongkang dan mulai mengganggu pengiriman batu bara dari wilayah tambang menuju terminal ekspor.
Sungai Barito di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan serta Sungai Mahakam di Kalimantan Timur menjadi sejumlah jalur yang terdampak. Penurunan ketinggian air membuat tongkang tidak dapat beroperasi dengan kapasitas normal, sementara sebagian wilayah sungai bahkan dilaporkan sudah tidak dapat dilalui kapal.
Gangguan tersebut terjadi ketika ekspor batu bara Indonesia mengalami penurunan tajam. Mengutip Shanghai Metals Market (SMM), Kamis (10/9/2026), ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut pada Agustus 2026 mencapai 36,10 juta ton, turun 23,34% secara tahunan dan 6,54% dibandingkan Juli.
Volume ekspor tersebut telah menurun selama tiga bulan berturut-turut dan mencapai level terendah untuk bulan Agustus dalam lima tahun terakhir.
Barito Mulai Tidak Dapat Dilayari
Sungai Barito menjadi salah satu titik yang paling terdampak kekeringan. Argus Media melaporkan penurunan kedalaman sungai telah membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Sebagian wilayah hulu sungai bahkan dilaporkan telah kehilangan kemampuan untuk dilalui kapal. Kondisi ini membuat pengangkutan batu bara menggunakan tongkang semakin sulit dan meningkatkan risiko tertahannya pasokan di kawasan tambang. Argus Media juga mencatat sejumlah produsen batu bara telah menyatakan force majeure atas pengiriman akibat kondisi sungai.
“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
“Sebagian wilayah hulu Sungai Barito telah sepenuhnya tidak dapat dilalui kapal, dengan sejumlah perusahaan tambang di wilayah tersebut sudah menyatakan force majeure atas pengiriman akibat kondisi tersebut,” papar Argus Media.
Wilayah pertambangan di Kalimantan Tengah merupakan salah satu sumber batu bara kalori menengah hingga tinggi. Argus mencatat beberapa tambang di wilayah tersebut mampu memproduksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.
Sepanjang tahun lalu, produksi batu bara Kalimantan Tengah mencapai sekitar 45,78 juta ton. Sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor. Dengan demikian, gangguan di Barito berpotensi memengaruhi tidak hanya kelancaran ekspor, tetapi juga rantai distribusi batu bara dari tambang menuju pelabuhan dan konsumen.
Mahakam Batasi Muatan Tongkang
Kondisi serupa terjadi di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Penurunan debit air membuat kapasitas angkut tongkang harus dikurangi agar pelayaran tetap aman. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi bahwa surutnya Sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan pihaknya belum dapat memperkirakan volume ekspor yang tertahan akibat kondisi tersebut. Namun, penurunan debit air membuat draft tongkang terbatas sehingga muatan tidak dapat diisi hingga kapasitas normal.
“Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi mengatakan otoritas pelabuhan telah meminta perusahaan dan pemilik pelabuhan mengurangi muatan tongkang menjadi sekitar 5.500—6.000 ton.
Dalam kondisi normal, tongkang pengangkut batu bara dapat membawa hingga 7.000 ton. Namun, penyusutan debit air membuat kapasitas tersebut dinilai tidak lagi aman untuk digunakan.
“Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah,” kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).
Selain Barito dan Mahakam, Sungai Kapuas juga mengalami penurunan debit air. Ketiga sungai tersebut merupakan bagian penting dari sistem transportasi batu bara Kalimantan, karena produksi dari area tambang umumnya dibawa menggunakan tongkang melalui sungai sebelum dipindahkan ke kapal yang lebih besar.
ESDM Siapkan Jalur Sungai Alternatif
Memburuknya kondisi sungai membuat pemerintah menyiapkan langkah untuk mencegah gangguan transportasi berkembang menjadi persoalan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pemerintah berfokus memastikan jalur distribusi dan ketersediaan batu bara untuk PT PLN (Persero) tetap terjaga. Menurut Tri, musim kemarau merupakan kondisi alam yang tidak dapat dihindari sehingga pemerintah perlu menyiapkan alternatif distribusi.
“Nah poinnya adalah kita antisipasi untuk suplainya ke PLN seperti apa. Kira-kira gitu,” ungkap Tri saat ditemui usai menghadiri Perayaan Ulang Tahun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).
“Dari sisi kami [kementerian], kalau misalnya musim [kemarau] mau bilang apa ya kan? Enggak bisa kita ngelawan alam,” tambahnya.
Jika jalur sungai tertentu semakin dangkal dan tidak lagi dapat digunakan, pemerintah akan mengalihkan pengiriman melalui jalur lain yang masih dapat dilayari. Alternatif pasokan dari wilayah berbeda juga dapat digunakan apabila kondisi di Kalimantan Tengah semakin memburuk.
“Bukan. Ini kalau kering, entah yang Kalimantan Tengah itu kita lewati, atau kita ganti yang lain gitu. Cari jalur [sungai] yang lain,” katanya.
Langkah tersebut menjadi penting karena gangguan pada jalur sungai dapat menghambat pergerakan batu bara sejak dari tambang. Bahkan ketika produksi tambang tetap berjalan, keterbatasan transportasi dapat menyebabkan batu bara menumpuk di area tambang atau stockpile pelabuhan.
Dampak Mulai Terlihat pada Ekspor
Penurunan ekspor pada Agustus menunjukkan bahwa gangguan logistik di Kalimantan berlangsung bersamaan dengan melemahnya pengiriman batu bara Indonesia ke sejumlah pasar utama. Ekspor ke China mencapai 14,47 juta ton dan India 7,10 juta ton. Secara bulanan, pengiriman ke kedua negara tersebut masing-masing masih meningkat 1,26% dan 12,01%.
Namun, ekspor ke Filipina turun 26,38% secara bulanan menjadi 2,69 juta ton, sementara pengiriman ke Vietnam merosot 21,58%. Data tersebut belum sepenuhnya menunjukkan seberapa besar kontribusi kekeringan sungai terhadap penurunan ekspor. Namun, laporan pelaku industri dan perusahaan pemantau komoditas menunjukkan bahwa rendahnya permukaan air telah menjadi kendala nyata dalam rantai logistik batu bara.
Jika El Niño memperpanjang periode kering dan debit sungai terus menyusut, tekanan terhadap pengangkutan batu bara dari Kalimantan berpotensi semakin besar. Pemerintah kini mengandalkan pengalihan rute dan sumber pasokan alternatif untuk memastikan gangguan pada jalur sungai tidak berkembang menjadi masalah pasokan bagi pembangkit listrik nasional. (*)
