TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 603 kali.
KALIMANTAN TIMUR

Tiga Sungai Kalimantan Mengering, Pengangkutan Batu Bara Mulai Terganggu

Jakarta, Tebarberita.id — Kekeringan yang melanda tiga sungai utama di Kalimantan mulai mengganggu rantai distribusi batu bara Indonesia. Sungai Mahakam, Barito, dan Kapuas mengalami penurunan debit air secara bersamaan, membuat sejumlah tongkang kesulitan melintas dan memaksa perusahaan tambang mengurangi muatan hingga menghentikan operasi.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menyebut dampak paling terasa terjadi di wilayah Kalimantan Tengah bagian atas. Pendangkalan sungai telah menghambat jalur transportasi yang menjadi sarana utama pengiriman batu bara dari kawasan produksi menuju pelabuhan.

Ketua Umum APBI Priyadi Sutarso mengatakan kondisi tiga sungai tersebut telah mengganggu aktivitas pengangkutan.

“Mahakam, Sungai Barito kandas, Sungai Kapuas juga iya,” ungkap Priyadi ditemui usai agenda Ulang Tahun ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo Kemayoran, Kamis (10/9/2026).

Priyadi mengatakan penurunan debit air terjadi secara bersamaan di ketiga jalur perairan tersebut. Akibatnya, lalu lintas tongkang terganggu dan stabilitas pengiriman batu bara untuk kebutuhan domestik maupun ekspor ikut terdampak.

“Iya, pasti terpengaruh,” ungkapnya.

Tongkang Tak Bisa Melintas

Persoalan utama terletak pada ketergantungan industri batu bara terhadap jalur sungai sebagai sarana transportasi logistik. Ketika permukaan air turun melewati batas tertentu, tongkang tidak lagi dapat membawa muatan normal atau bahkan tidak dapat melintas di sejumlah titik.

Priyadi mengatakan kondisi tersebut telah memengaruhi kegiatan operasional perusahaan tambang. Sebagian perusahaan masih mempertahankan produksi, sementara lainnya memilih menghentikan kegiatan untuk sementara.

“Ada beberapa yang produksi jalan terus, ada juga beberapa perusahaan yang memang sudah memilih untuk berhenti beroperasi,” ungkapnya.

APBI belum dapat menghitung secara pasti nilai kerugian maupun total volume batu bara yang tertahan akibat gangguan tersebut.

Menurut Priyadi, persoalan kekeringan sungai juga tidak memiliki solusi teknis yang dapat diterapkan dengan cepat. Industri praktis harus menunggu peningkatan curah hujan untuk mengembalikan kedalaman sungai ke tingkat yang memungkinkan tongkang kembali beroperasi.

“Iya tidak ada jalan lain, tunggu hujan,” katanya.

Mahakam Batasi Muatan Tongkang

Gangguan juga terjadi di Sungai Mahakam, salah satu jalur penting pengangkutan batu bara di Kalimantan Timur.

Penurunan debit air di sungai tersebut membuat kapasitas muatan tongkang harus dikurangi. Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi mengatakan pihaknya telah menginstruksikan perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan batu bara menjadi sekitar 5.500—6.000 ton per tongkang.

Dalam kondisi normal, tongkang dapat mengangkut hingga 7.000 ton batu bara. Namun, kapasitas tersebut dinilai berisiko bagi keselamatan pelayaran ketika debit air menyusut.

“Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah,” kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).

Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani sebelumnya juga mengonfirmasi bahwa surutnya Sungai Mahakam telah menghambat pengiriman batu bara.

Penurunan debit air membatasi draft tongkang sehingga muatan tidak dapat dimaksimalkan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan batu bara menumpuk sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan.

“Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batubara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita ketika dihubungi, Selasa (8/9/2026).

Gita mengatakan APBI masih belum dapat menghitung secara pasti dampak gangguan Sungai Mahakam terhadap ekspor.

“Untuk dampaknya terhadap volume ekspor, saat ini kami belum dapat memperkirakan secara pasti berapa volume ekspor yang terdampak akibat surutnya sungai Mahakam,” tegas Gita.

Menurut Gita, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena Kalimantan merupakan salah satu pusat utama produksi dan ekspor batu bara Indonesia.

Muatan Berkurang, Biaya Logistik Naik

Gangguan di Mahakam tidak hanya membatasi volume batu bara yang dapat diangkut dalam satu perjalanan, tetapi juga meningkatkan biaya logistik. Shanghai Metals Market (SMM) mencatat sejumlah tongkang yang melintasi Sungai Mahakam masih mengalami kesulitan ketika bergerak menuju hulu meskipun muatannya telah dikurangi.

“Beberapa tongkang masih mengalami kesulitan saat berlayar ke hulu meskipun muatannya telah dikurangi. Kelompok industri tersebut mencatat bahwa penurunan kapasitas angkut per perjalanan akan membutuhkan lebih banyak perjalanan dan meningkatkan biaya logistik,” tulis SMM dalam risetnya.

Artinya, perusahaan harus melakukan lebih banyak perjalanan untuk memindahkan volume batu bara yang sama. Keterbatasan tersebut meningkatkan biaya transportasi sekaligus berpotensi memperpanjang waktu pengiriman dari tambang menuju titik pemuatan.

Data Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur menunjukkan besarnya peran komoditas tersebut dalam perdagangan daerah. BI Kaltim mencatat ekspor batu bara dari provinsi tersebut pada kuartal IV-2025 mencapai 57.525 ton, dengan China dan India sebagai negara tujuan ekspor terbesar.

Barito Menghadapi Risiko Force Majeure

Sungai Barito menghadapi persoalan serupa. Penurunan kedalaman sungai telah membatasi pergerakan batu bara dari kawasan tambang menuju terminal ekspor.

Argus Media mencatat kondisi tersebut bahkan telah mendorong sejumlah produsen menyatakan keadaan kahar atau force majeure atas pengiriman.

“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).

Gangguan di Barito menjadi perhatian khusus karena sungai tersebut merupakan salah satu jalur penting bagi distribusi batu bara dari wilayah pertambangan Kalimantan Tengah.

Jika permukaan air terus menyusut, kemampuan tongkang membawa batu bara dari kawasan produksi menuju terminal ekspor akan semakin terbatas. Kondisi itu dapat menimbulkan penumpukan stok di tambang sekaligus mengurangi kelancaran pengiriman ke pasar internasional.

Menunggu Hujan

Krisis jalur sungai di Kalimantan memperlihatkan kerentanan rantai pasok batu bara terhadap kondisi hidrologis. Produksi dapat tetap berlangsung, tetapi distribusi akan tersendat ketika sungai yang menjadi jalur utama transportasi tidak lagi memiliki kedalaman yang memadai.

Untuk saat ini, pelaku industri belum memiliki solusi cepat untuk mengatasi persoalan tersebut. Pengurangan muatan dan pembatasan pelayaran hanya dapat mengurangi risiko keselamatan, sementara pemulihan kapasitas angkut tetap bergantung pada naiknya permukaan air.

Bagi industri batu bara Kalimantan, persoalannya bukan lagi sekadar seberapa banyak batu bara yang dapat diproduksi, tetapi seberapa banyak komoditas tersebut dapat dikeluarkan dari wilayah tambang ketika jalur sungai semakin dangkal.

Dengan tiga sungai utama—Mahakam, Barito, dan Kapuas—sama-sama menghadapi penurunan debit, kelanjutan musim kering akibat El Niño menjadi faktor penting yang akan menentukan seberapa besar gangguan logistik batu bara Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. (*)

Related posts

Kebakaran di Permukiman Batu Kajang Hanguskan Delapan Bangunan, Kerugian Ditaksir Rp2 Miliar

admin

Hampir 14 Tahun SMAN 17 Samarinda Pinjam Gedung

admin

LIPUTAN INVESTIGASI: Dugaan SPMB SMA 2026 di Samarinda Sengaja Tabrak Aturan, Jalur Mutasi Banyak Diisi Murid Lokal (Bagian 1)

admin