Sangatta, Tebarberita.id — Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, terpilih mewakili Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam Lomba Desa Berkinerja Baik dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting (P3S) tingkat Provinsi Kalimantan Timur.
Ketua TP PKK Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, menilai ajang tersebut dapat menjadi sarana untuk mendorong pemerintah desa meningkatkan keterlibatan dalam upaya pencegahan dan percepatan penanganan stunting.
Menurut Siti Robiah, mekanisme penilaian membuat desa lebih terdorong untuk memperbaiki kinerja, terutama dalam pengumpulan data serta pelaksanaan program penanganan stunting.
“Bagus, karena kalau tidak diadakan lomba seperti ini, desa-desa tidak terpacu. Dengan adanya lomba, mereka terpacu untuk aktif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu indikator keaktifan desa terlihat dari peran Kader Pembangunan Manusia (KPM) dalam memasukkan data melalui aplikasi e-Human Development Worker (eHDW). Data tersebut selanjutnya digunakan dalam proses pemantauan dan penilaian secara berjenjang.
“Keaktifan desa melalui KPM-nya mengunggah data-data ke pusat, kemudian dilihat dan dinilai. Dengan adanya seperti ini, desa-desa juga terpacu,” jelasnya.
Dari total 139 desa di Kutai Timur, Siti Robiah mengatakan hampir seluruhnya telah aktif menjalankan program pencegahan dan penanganan stunting. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan komitmen desa dalam mendukung upaya penurunan stunting di daerah.
Singa Gembara kemudian ditetapkan sebagai perwakilan Kutim setelah melalui tahapan seleksi dan pendampingan. Siti Robiah berharap pencapaian tersebut tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat dilanjutkan dengan menjadikan Singa Gembara sebagai rujukan bagi desa lainnya.
“Alhamdulillah, Singa Gembara yang mewakili Kutai Timur. Ini juga perlu kita dorong bersama. Ke depannya Singa Gembara bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya,” katanya.
Dapur Stunting jadi inovasi desa
Selain kinerja dalam pendataan dan pelaksanaan program, Siti Robiah memberikan apresiasi terhadap inovasi Desa Singa Gembara melalui program Dapur Stunting.
Menurut dia, program tersebut menunjukkan keterlibatan langsung pemerintah desa dalam menangani persoalan stunting di wilayahnya. Namun, keberlanjutan program perlu menjadi perhatian agar manfaatnya dapat dipertahankan.
“Dapur Stunting bagus, karena ini merupakan inisiatif dari desa untuk menurunkan angka stunting yang ada di desanya. Yang perlu dijaga adalah konsistensinya,” ujarnya.
Siti Robiah mengatakan keberlangsungan Dapur Stunting tidak hanya bergantung pada kegiatan penyediaan makanan. Program tersebut juga membutuhkan tenaga untuk menyiapkan dan mendistribusikan makanan serta memastikan bantuan sampai kepada penerima yang menjadi sasaran.
Karena itu, ia mendorong keterlibatan pemerintah desa, kader, TP PKK, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan program tersebut.
“Ini yang harus kita dorong semua pihak, baik pemerintah desa, kader, maupun PKK. Semua harus saling bersinergi sehingga Dapur Stunting ini tetap berjalan,” tegasnya.
Dorong keterlibatan dunia usaha
Siti Robiah juga mengapresiasi kontribusi sektor swasta dalam mendukung upaya penanganan stunting, termasuk melalui bantuan terhadap fasilitas Posyandu.
Menurutnya, pelibatan perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dapat memperkuat intervensi pemerintah dalam menangani persoalan stunting di tingkat masyarakat.
“Jelas mereka punya TJSL. Mereka harus memberikan kontribusi kepada masyarakat luas supaya keberadaan mereka dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Ia menilai dukungan dunia usaha perlu terus diperkuat karena penanganan stunting tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan saat ini, tetapi juga menentukan kualitas sumber daya manusia dan generasi mendatang. (*)
