tebarberita.id
      Artikel ini telah dilihat : 637 kali.
NEWS

Inggris Kerahkan Jet Tempur Typhoon ke Arab Saudi, Misi Difokuskan pada Pertahanan Udara

Ilustrasi

London, Tebarberita.id — Pemerintah Inggris akan mengerahkan jet tempur Royal Air Force (RAF) Typhoon ke Arab Saudi untuk membantu melindungi negara tersebut dari serangan rudal dan drone kelompok Houthi. Pengumuman itu disampaikan pada Selasa (20/10), di tengah meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur vital dan aktivitas ekonomi kerajaan tersebut.

Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan, jet tempur itu akan menjalankan misi pertahanan udara untuk melindungi kota-kota dan fasilitas strategis Arab Saudi. Pesawat-pesawat tersebut tidak akan digunakan untuk menyerang sasaran Houthi di Yaman, tetapi difokuskan untuk mencegat rudal dan drone di udara.

Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengecam serangan yang terus dilancarkan kelompok tersebut terhadap Arab Saudi.

“Serangan Houthi yang terus berlanjut terhadap sekutu kami, Arab Saudi, benar-benar tidak dapat dibenarkan,” ungkap Streeting.

Ia juga mengecam serangan terhadap Bandara Internasional Riyadh. Bandara tersebut dilaporkan telah menjadi sasaran sedikitnya 20 kali sejak awal Oktober, dengan korban jiwa sedikitnya 18 orang dan ratusan lainnya terluka.

Konflik kembali memanas setelah gencatan senjata dalam perang Yaman runtuh pada September lalu. Sejak itu, serangan terhadap fasilitas minyak dan infrastruktur sipil Arab Saudi dilaporkan semakin meningkat. Houthi juga disebut menerapkan blokade laut dan menyerang kapal tanker, sehingga mengganggu ekspor minyak dan mendorong kenaikan harga energi.

Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) menuduh Iran memberikan dukungan kepada Houthi. Teheran membantah tuduhan tersebut.

Pengerahan jet Typhoon dilakukan atas permintaan Riyadh dan melengkapi bantuan militer yang sebelumnya diumumkan London pada September. Inggris juga akan mengirim pesawat angkut militer Atlas A400M serta penasihat militer ke Arab Saudi.

Pada bulan sebelumnya, Inggris telah memberikan dukungan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat-pesawat Arab Saudi yang beroperasi melawan Houthi. Streeting mengatakan dukungan tersebut akan diperpanjang selama 90 hari ke depan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekuatan militer tidak dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengakhiri konflik di Yaman.

“Kami tetap mendukung proses politik yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai jalan terbaik menuju perdamaian yang berkelanjutan,” ujarnya.

Juru bicara Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, membantah bahwa keterlibatan London membuat Inggris semakin terseret ke dalam konflik tersebut. Sementara itu, juru bicara pemerintah Tom Wells menegaskan bahwa bantuan Inggris ditujukan untuk memperkuat pertahanan Arab Saudi.

“Dukungan kami kepada Arab Saudi bersifat terukur, proporsional, dan difokuskan untuk membantu mereka mempertahankan diri dari serangan Houthi yang terus-menerus,” kata Wells.

Sejumlah Negara Siapkan Bantuan Pertahanan

Menurut Associated Press, Arab Saudi telah meminta dukungan pertahanan udara dari sejumlah negara mitra, termasuk Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir, untuk menghadapi serangan rudal dan drone dari Houthi maupun kelompok lain yang berafiliasi dengan Iran.

Amerika Serikat, yang pernah melancarkan serangan terhadap Houthi pada masa pemerintahan Joe Biden dan Donald Trump, kali ini tidak memilih pendekatan militer serupa.

Mesir, di sisi lain, mengumumkan bantuan militer dan menyatakan kesiapannya memberikan “segala bentuk dukungan yang memungkinkan” guna membantu Arab Saudi “menjaga keamanan dan stabilitasnya.”

Seorang pejabat pemerintah Mesir juga menyebut Kairo akan mengerahkan sistem pertahanan udara dan pesawat militer untuk membantu mencegat rudal serta drone yang diarahkan ke Arab Saudi.

Ancaman Keamanan Tekan Agenda Investasi Saudi

Meningkatnya ancaman keamanan mulai berdampak pada agenda ekonomi Arab Saudi. Pemerintah kerajaan memutuskan menunda penyelenggaraan Future Investment Initiative (FII), konferensi investasi internasional yang kerap dijuluki “Davos di Gurun”, hingga 2027.

Acara tersebut semula dijadwalkan berlangsung pada 26–29 Oktober dan diperkirakan dihadiri investor serta pelaku industri keuangan global. Sejumlah laporan media menyebut bank-bank besar dan perusahaan investasi swasta telah menyampaikan kekhawatiran mengenai situasi keamanan di kawasan tersebut.

Penundaan FII menjadi tantangan bagi upaya Arab Saudi menarik investasi asing. Konferensi itu merupakan salah satu instrumen utama kerajaan untuk memperkuat arus modal internasional sekaligus mengurangi ketergantungan ekonomi pada sektor minyak. (*)

Related posts

Diduga Terlibat Kasus Jeffrey Epstein, Anggota Kongres AS Akan Panggil Sejumlah Orang

admin

Cadangan Energi Thorium Indonesia Cukup untuk Seribu Tahun

admin

Lima Pj Gubernur Pilihan Presiden Dilantik

admin