New Delhi, Tebarberita.id — Kekeringan akibat lemahnya musim monsun di India memicu tekanan berantai terhadap sektor pertanian, pasokan listrik, dan daya beli masyarakat. Curah hujan yang jauh di bawah normal membuat cadangan air waduk menyusut, sementara petani menghadapi gagal panen dan kenaikan biaya hidup.
Salah satu yang terdampak adalah Ramesh Reddy, petani tomat berusia 44 tahun di distrik Kolar, Karnataka. Ia kehilangan seluruh hasil panen setelah sumur irigasi di lahan seluas 3,5 hektare miliknya mengering. Sebelumnya, Reddy menginvestasikan 320.000 rupee atau sekitar Rp59,2 juta, termasuk pinjaman berbunga 24 persen per tahun dengan jaminan perhiasan pernikahan istrinya.
“Saya telah kehilangan semua yang saya investasikan,” katanya kepada DW. “Tidak ada uang tersisa untuk musim tanam berikutnya dan saya tidak tahu bagaimana cara melunasi pinjaman.”
Reddy kini mempertimbangkan meninggalkan pertanian dan mencari pekerjaan sebagai satuan pengamanan di Bengaluru.
India menerima curah hujan 759,4 milimeter selama Juni hingga September 2026, atau 12,6 persen di bawah rata-rata jangka panjang sebesar 868,6 milimeter. Defisit tersebut menjadikan monsun tahun ini yang terkering dalam 11 tahun terakhir dan keempat terkering pada abad ini.
Ilmuwan iklim Madhavan Nair Rajeevan menyebut fenomena El Niño sebagai faktor utama yang memengaruhi lemahnya curah hujan. Kondisi ini mengancam pertanian karena hampir separuh angkatan kerja India menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.
“Sejauh menyangkut monsun India, El Niño adalah faktor yang paling berpengaruh dan harus kita pertimbangkan dengan sangat serius,” papar Rajeevan kepada DW.
Dampak kekeringan juga terlihat pada cadangan air. Komisi Air Pusat India mencatat persediaan di 178 waduk utama mencapai 132,7 miliar meter kubik, lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun sebesar 151,1 miliar meter kubik.
Keterbatasan air turut menekan sektor energi. Menurut data Grid India, produksi listrik tenaga air turun hampir 16 persen pada September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Defisit listrik mencapai 560 juta kilowatt-jam, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Beban pembangkitan kemudian meningkat pada pembangkit batu bara. Namun, data Otoritas Listrik Pusat India menunjukkan sekitar 40 persen pembangkit batu bara memiliki persediaan bahan bakar pada tingkat kritis, yakni kurang dari seperempat kebutuhan.
Pemerintah pun memerintahkan sejumlah pembangkit listrik industri swasta beroperasi pada kapasitas penuh dan menyalurkan kelebihan pasokan ke jaringan nasional. Gangguan listrik menjadi persoalan bagi sektor manufaktur yang membutuhkan pasokan stabil.
“Pasokan listrik yang tidak terputus sangat penting bagi unit-unit manufaktur, karena pemadaman listrik mengganggu siklus produksi,” kata Ashok Gupta, ketua Asosiasi Industri Mohali. “Gangguan seperti ini tidak hanya menimbulkan kerugian bagi produsen, tetapi juga mengakibatkan pemborosan bahan baku.”
Tekanan ekonomi berpotensi meluas ketika pendapatan pertanian menurun bersamaan dengan kenaikan harga pangan. Ekonom pembangunan Himanshu dari Jawaharlal Nehru University menyebut kondisi tersebut sebagai “guncangan ganda” bagi rumah tangga pedesaan.
“Ketika pendapatan pertanian turun dan harga pangan naik, rumah tangga pedesaan menghadapi tekanan pada daya beli mereka,” katanya kepada DW.
Kenaikan harga juga dirasakan masyarakat perkotaan. Survei bank sentral India pada September 2026 menunjukkan masyarakat memperkirakan inflasi meningkat di tengah tekanan harga pangan dan bahan bakar.
Sunita Sharma, warga New Delhi, mengatakan pengeluaran rumah tangganya bertambah dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami tidak punya pilihan selain memangkas pengeluaran yang tidak mendesak hanya untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari,” katanya kepada DW.
Analisis ISignal berdasarkan data Departemen Urusan Konsumen menunjukkan harga bawang merah naik 93 persen pada September dibandingkan tahun sebelumnya. Harga gula meningkat 28 persen, sedangkan beras naik sekitar 8 persen.
Ancaman berikutnya adalah musim tanam rabi, ketika petani mulai menanam gandum, mustard, dan kacang Arab. Keberhasilan musim tanam ini bergantung pada ketersediaan kelembapan tanah setelah monsun yang lemah.
Rajeevan memperingatkan perubahan iklim dapat memperbesar ketidakpastian curah hujan pada masa mendatang.
“Dalam iklim yang menghangat, periode kering yang lebih panjang dan variabilitas curah hujan yang lebih besar adalah sebuah kemungkinan,” katanya. “Ke depan, selain pengaruh El Niño, kita harus memperhitungkan dampak dari iklim yang lebih hangat.”
Bagi Reddy, dampak kekeringan bukan lagi sekadar persoalan cuaca. Gagal panen telah menghilangkan sumber pendapatannya, meninggalkan utang, dan memaksanya mempertimbangkan meninggalkan lahan yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya.(*)

