TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 640 kali.
NEWS

Laporan: Peretas China Akses Email Staf Komite Strategis DPR AS

TEBARBERITA.ID – Kelompok peretas yang dikaitkan dengan China dilaporkan berhasil mengakses email staf sejumlah komite strategis di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan Financial Times, mengutip sumber yang mengetahui langsung insiden peretasan tersebut.

Kelompok peretas yang dikenal dengan nama Salt Typhoon disebut menembus sistem email staf Komite DPR untuk Urusan China, serta pembantu di komite yang membidangi urusan luar negeri, intelijen, dan layanan bersenjata. Namun, laporan itu tidak merinci identitas staf yang menjadi sasaran, sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (9/1/2026).

Reuters menyebut belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Hingga kini juga belum dipastikan apakah email anggota Kongres ikut terdampak dalam insiden yang terdeteksi pada Desember lalu.

Menanggapi laporan itu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, membantah tudingan tersebut. Ia menyebut laporan tersebut sebagai spekulasi yang tidak berdasar. Sementara itu, FBI menolak memberikan komentar. Gedung Putih dan empat komite DPR yang disebut dalam laporan juga belum merespons permintaan klarifikasi.

Menurut sumber Financial Times, insiden ini menambah daftar panjang dugaan operasi spionase siber yang menargetkan lembaga legislatif AS. Selama ini, anggota parlemen dan staf yang terlibat dalam pengawasan kebijakan militer dan intelijen kerap menjadi sasaran peretasan.

Pada November lalu, sejumlah kantor Senat AS diberi tahu tentang insiden siber terpisah, di mana peretas diduga mengakses komunikasi antara Congressional Budget Office dan beberapa kantor Senat. Sementara pada 2023, Washington Post melaporkan dua anggota senior Kongres juga menjadi target operasi peretasan yang dikaitkan dengan Vietnam.

Salt Typhoon dikenal luas di komunitas intelijen AS sebagai kelompok peretas yang diduga bekerja untuk kepentingan intelijen China. Mereka disebut mengincar data komunikasi sensitif, termasuk percakapan telepon dan komunikasi pejabat tinggi pemerintah AS.

China secara konsisten membantah terlibat dalam aktivitas spionase siber terhadap Amerika Serikat.

Awal tahun lalu, pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadap seorang peretas bernama Yin Kecheng dan perusahaan Sichuan Juxinhe Network Technology, yang dituding terkait dengan operasi Salt Typhoon. (*)

Related posts

Seruni Catering Samarinda Gelar Khitanan dan Tasyakuran 

admin

Bersiap Tampil di Ajang Nasional

admin

Serap Aspirasi, Sigit Wibowo Perjuangkan Keinginan Warga Balikpapan

admin