TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 743 kali.
EKONOMI NASIONAL

Buang Dolar, Jurus Jitu Negara Bangun Kekuatan Ekonomi Baru

Tebarberita.id, Jakarta – Langkah beberapa negara untuk melakukan dedolarisasi alias bertransaksi tidak lagi menggunakan dolar Amerika Serikat (AS), dinilai sebagai langkah tepat untuk membangun kekuatan ekonomi baru.

Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani menjelaskan, dedolarisasi memberikan dampak positif terhadap penguatan nilai tukar di suatu negara.

“Ketika demand akan suatu barang termasuk mata uang dolar, ketika demand berkurang, harga akan turun. Ini kemudian menjadi sebuah kondisi ketika ada dedolarisasi,” jelas Ajib kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (4/5/2023).

“Artinya dedolarisasi akan memberikan dampak positif, tren mata uang di suatu negara akan terus menguat dan tentunya akan memberikan dampak positif untuk perekonomian,” kata Ajib lagi.

Ajib bilang, ketika dolar AS menjadi penentu tunggal arah kebijakan ekonomi global, akan berdampak negatif karena menimbulkan krisis keuangan global atau global financial crisis.

Masalahnya, Amerika Serikat adalah negara adidaya yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi sedunia. Sehingga akan menjadi satu-satunya arah penentu ekonomi global. Ketika perekonomian AS goyah, maka runyam ekonomi seluruh negara di dunia.

Oleh karena itu, adanya langkah banyak negara untuk meninggalkan dolar atau dedolarisasi, kata Ajib akan ada diversifikasi mata uang yang bisa menjadi alat untuk stabilisasi.

“Jadi, kedaulatan ekonomi negara bisa lebih berperan untuk membuat stabilitas ekonomi ke depannya,” ucapnya.

Pun dedolarisasi menurut Ajib merupakan langkah jitu suatu negara untuk membangun ekonomi baru. Karena tidak bertumpu atau bergantung pada satu mata uang tertentu.

“Ketika ingin membangun kekuatan ekonomi baru namun bertumpu pada satu mata uang, maka itu akan menjadi sebuah opsi yang fragile atau tidak kokoh karena hanya menggantungkan pada satu mata uang,” jelas Ajib lagi.

Seperti diketahui, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva baru-baru ini mengungkapkan, dolar AS secara bertahap kehilangan marwahnya sebagai mata uang cadangan utama dunia.

Dalam sebuah konferensi di AS, Senin waktu setempat, ia berujar perubahan telah terjadi.

“Ada pergeseran bertahap dari dolar, dulunya 70% dari cadangan, sekarang sedikit di bawah 60%,” tegasnya di acara Global Milken Institute 2023 dikutip Kamis (4/5/2023).

Meski belum bisa tergantikan dalam waktu dekat, tambahnya, pesaing AS terbesar sudah bermunculan. Ini antara euro, dengan potensi paling massif. Ada pula pound Inggris, yen Jepang dan yuan China. “Mereka memainkan peran yang sangat sederhana,” ujarnya. (*)

Sumber: CNBCIndonesia

Related posts

Terbit Aturan Baru soal Biaya Perjalanan Dinas PNS, Berlaku Mulai 2024

admin

UU IKN Akan Direvisi, Pulau Balang Dikeluarkan dari Wilayah IKN

admin

Menpan RB Lapor Presiden, RI Kekurangan 18 Ribu Hakim

admin