TebarBerita.ID
      Artikel ini telah dilihat : 647 kali.
NEWS

Ancaman Baru Trump ke Iran Tingkatkan Risiko Konflik Berkepanjangan

Marinir Amerika Serikat

TEBARBERITA.ID – Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran kian meningkat, dengan tuntutan baru yang mencakup pembatasan program rudal hingga penghapusan total uranium yang diperkaya. Langkah ini memicu kekhawatiran akan potensi konflik berkepanjangan, mengingat kedua pihak memiliki kepentingan strategis dan tekad yang dapat memperburuk eskalasi militer.

Pada Januari lalu, Trump mengancam akan menggulingkan rezim Iran sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Teheran terhadap aksi protes domestik. Namun kini, di tengah pengerahan pasukan Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah, tekanan Washington terhadap Iran bergeser ke tuntutan konsesi strategis baru. Trump juga memperingatkan akan ada konsekuensi yang “jauh lebih buruk” dibanding Operasi Midnight Hammer pada Juni lalu. Meski demikian, tujuan akhir kebijakan militernya belum sepenuhnya jelas, termasuk kemungkinan langkah yang dapat berupa serangan udara, blokade laut, atau bahkan upaya pergantian rezim.

Situasi ini dinilai sangat rentan terhadap salah perhitungan. Iran dapat melihat konflik sebagai kesempatan untuk merespons dua ancaman sekaligus, yakni tekanan eksternal dari AS dan tantangan internal terhadap stabilitas rezim. Serangan balasan yang efektif berpotensi meningkatkan biaya bagi Washington, sekaligus memberi peluang bagi pemerintah Iran untuk memperkuat legitimasi domestik dengan menunjukkan perlawanan terhadap tekanan asing.

Sejarah menunjukkan negara dengan kekuatan militer lebih lemah tidak selalu kalah dalam konflik melawan kekuatan besar. Mengacu pada teori perang asimetris Andrew Mack, negara yang lebih lemah tidak harus menang secara militer, tetapi cukup bertahan hingga pihak lawan kehilangan kemauan melanjutkan konflik yang mahal dan tidak esensial. Dalam konteks ini, Iran dinilai memiliki keuntungan dari sisi tekad, karena konflik langsung dengan AS menyangkut kelangsungan rezimnya sendiri.

Retorika Trump tentang pergantian rezim telah meningkatkan konflik menjadi persoalan eksistensial bagi kepemimpinan Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Jika sebelumnya Iran cenderung menahan diri dengan respons simbolis guna menghindari eskalasi, kini insentif untuk menahan diri dinilai semakin melemah apabila Teheran meyakini Washington benar-benar berniat menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa.

Selain itu, para pemimpin Iran kemungkinan memperkirakan mereka mampu bertahan lebih lama dibanding kepemimpinan Trump. Operasi pergantian rezim umumnya berlangsung lama dan penuh ketidakpastian. Keengganan Trump terhadap operasi militer jangka panjang juga menjadi faktor yang diperhitungkan, termasuk keputusan sebelumnya menghentikan operasi militer terhadap kelompok Houthi dalam waktu relatif singkat.

Iran juga memiliki kapasitas untuk membalas melalui berbagai jalur di kawasan Timur Tengah, di mana sekitar 40.000 tentara AS ditempatkan. Kelompok militan yang berafiliasi dengan Teheran telah beberapa kali menyerang fasilitas AS dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari serangan gangguan hingga potensi serangan terhadap pangkalan militer utama seperti al-Udeid di Qatar. Target lain yang mungkin mencakup instalasi militer AS di Irak, Suriah, dan Yordania.

Bahkan jika AS berhasil menyingkirkan pimpinan utama Iran, perlawanan kemungkinan tetap berlanjut. Ketidakpercayaan Iran terhadap AS telah terbentuk sejak lama, termasuk dukungan Washington terhadap Saddam Hussein dalam Perang Iran-Irak dan kebijakan militer AS di kawasan. Dukungan AS kepada Israel juga memperkuat persepsi ancaman strategis di mata Teheran.

Di sisi lain, konflik dengan AS juga dapat dimanfaatkan rezim Iran untuk memulihkan legitimasi domestik yang melemah akibat tekanan internal dan eksternal. Dalam ilmu politik, fenomena ini dikenal sebagai “gambling for resurrection,” yakni strategi rezim yang menghadapi krisis domestik dengan mengambil risiko konflik eksternal untuk memulihkan posisi politik.

Namun, upaya Iran untuk merespons tekanan tanpa memicu eskalasi penuh merupakan langkah yang sangat berisiko. Respons yang terlalu kuat dapat memicu perang terbuka, sementara respons yang terlalu lemah dapat melemahkan posisi rezim di dalam negeri. Risiko salah perhitungan inilah yang dinilai menjadi faktor paling berbahaya dalam situasi saat ini.

Direktur Program Timur Tengah di Defense Priorities, Rosemary Kelanic, menilai pilihan paling aman bagi Amerika Serikat adalah menghindari konflik yang tidak diperlukan. Ia memperingatkan bahwa perang dengan Iran berpotensi berkembang melampaui kendali kedua pihak dan menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan, termasuk kehilangan nyawa dan ketidakstabilan kawasan yang lebih luas.(*)

Related posts

Twitter Melabeli Sejumlah Perusahaan Pers Didanai Pemerintah

admin

Serap Aspirasi, Sigit Wibowo Perjuangkan Keinginan Warga Balikpapan

admin

Israel Tidak Terima Pemerintah Bolivia Putus Hubungan Diplomatik

admin